Ciliwung Depok Jadi Sorotan, Bukan Cuma Soal Sampah tapi Juga Masa Depan Sungai
Local Insight

Ciliwung Depok Jadi Sorotan, Bukan Cuma Soal Sampah tapi Juga Masa Depan Sungai

28 September 2026
5 tampilan
BagikanWhatsAppFacebookX

Aksli bersih sungai yang berlangsung pada Minggu (27/9) tidak hanya mengangkat persoalan sampah. Dalam penelusuran aliran Ciliwung di wilayah Depok, ditemukan pula persoalan bangunan di kawasan sempadan sungai dan titik-titik yang dinilai rentan mengalami erosi.

DepokOnline — 28 September 2026

Sungai Ciliwung kembali menjadi perhatian setelah sejumlah kegiatan lingkungan digelar di Depok dalam rangka memperingati Hari Sungai Sedunia.

Aksli bersih sungai yang berlangsung pada Minggu (27/9) tidak hanya mengangkat persoalan sampah. Dalam penelusuran aliran Ciliwung di wilayah Depok, ditemukan pula persoalan bangunan di kawasan sempadan sungai dan titik-titik yang dinilai rentan mengalami erosi.

Bagi Depok, persoalan ini menarik karena Ciliwung bukan sekadar aliran air yang melintas di tengah kota. Sungai ini juga berkaitan dengan lingkungan, risiko bencana, aktivitas masyarakat, dan bahkan peluang wisata.

Sampah Masih Menjadi Pekerjaan Rumah

Dalam aksi bersih sungai yang digelar Kementerian Lingkungan Hidup di sejumlah lokasi, sampah yang berhasil dikumpulkan mencapai ratusan kilogram hingga beberapa ton, tergantung lokasi kegiatan.

Di kawasan Ciliwung Depok sendiri, kegiatan susur sungai dilakukan dengan melibatkan masyarakat, komunitas lingkungan, pelajar, mahasiswa, serta relawan. Peserta menyusuri sungai sambil mengumpulkan sampah yang ditemukan di sepanjang perjalanan.

Wakil Ketua DPRD Kota Depok Yeti Wulandari juga menyebut sekitar 40 kilogram sampah berhasil dikumpulkan dalam kegiatan susur sungai di kawasan Beji. Sampah plastik menjadi salah satu jenis yang banyak ditemukan.

Angka tersebut mungkin terlihat kecil dibandingkan jumlah sampah yang dihasilkan sebuah kota setiap hari. Namun, kegiatan seperti ini memperlihatkan bahwa persoalan kebersihan sungai masih membutuhkan keterlibatan masyarakat secara berkelanjutan.

Membersihkan sungai satu hari tentu tidak cukup jika sampah kembali masuk ke aliran sungai setelah kegiatan selesai.

Bangunan di Sempadan Sungai Ikut Disorot

Persoalan Ciliwung ternyata tidak berhenti pada sampah.

Saat melakukan penelusuran sungai, Wakil Menteri Lingkungan Hidup Diaz Hendropriyono menyoroti keberadaan bangunan di kawasan sempadan Ciliwung.

Dari penelusuran tersebut, masih ditemukan bangunan yang berada terlalu dekat dengan sungai. Persoalan serupa juga ditemukan oleh DPRD Kota Depok dalam kegiatan susur sungai di wilayah Beji dan Cimanggis.

Menurut pihak yang melakukan peninjauan, keberadaan bangunan di kawasan sempadan dapat meningkatkan risiko terhadap kondisi bantaran, termasuk persoalan erosi dan longsor.

Karena itu, penataan kawasan di sekitar sungai menjadi bagian penting dari upaya menjaga fungsi Ciliwung dalam jangka panjang.

Erosi Juga Perlu Diperhatikan

Selain sampah dan bangunan, kondisi bantaran sungai menjadi perhatian berikutnya.

Minimnya vegetasi di sejumlah titik dapat membuat tepian sungai lebih rentan mengalami erosi. Salah satu gagasan yang disampaikan dalam kegiatan tersebut adalah penanaman pohon yang memiliki sistem perakaran kuat.

Pohon elo disebut sebagai salah satu jenis yang dapat dipertimbangkan untuk membantu memperkuat kawasan sekitar sempadan.

Persoalan lain yang turut disorot adalah keberadaan ikan sapu-sapu. Jenis ikan tersebut disebut dapat membuat lubang di dasar sungai dan ikut memengaruhi kondisi lingkungan sungai.

Ciliwung Tidak Harus Dilihat sebagai Sumber Masalah

Ada hal menarik lain dari pembahasan mengenai Ciliwung di Depok.

Selain melihat persoalan lingkungan, sejumlah pihak juga mulai membicarakan potensi sungai sebagai aset kota.

Ciliwung memiliki aliran air yang cukup deras di beberapa bagian. Kondisi tersebut dinilai memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi aktivitas tertentu, termasuk wisata berbasis sungai.

Wakil Ketua DPRD Depok Yeti Wulandari juga menyebut kemungkinan pengembangan Ciliwung sebagai kawasan ekowisata apabila kebersihan dan penataan sungai dapat dilakukan secara konsisten.

Sementara itu, Wakil Menteri Lingkungan Hidup Diaz Hendropriyono menyebut debit dan karakter aliran Ciliwung juga membuka pembahasan mengenai potensi energi mikrohidro.

Tentu saja, pemanfaatan tersebut membutuhkan kajian teknis, lingkungan, dan tata ruang. Namun, gagasan tersebut menunjukkan bahwa sungai dapat dilihat bukan hanya dari persoalan yang harus diselesaikan, tetapi juga dari potensi yang dapat dikembangkan.

Dari Sungai yang Bersih ke Kota yang Lebih Nyaman

Menjaga Ciliwung pada akhirnya bukan hanya pekerjaan pemerintah.

Masyarakat yang tinggal di sekitar sungai memiliki peran penting dalam menjaga agar sampah tidak masuk ke aliran air. Pelaku usaha juga perlu memperhatikan pengelolaan limbah dan aturan mengenai kawasan sempadan.

Di sisi lain, pemerintah perlu memastikan penataan kawasan sungai berjalan konsisten, termasuk pengawasan terhadap bangunan dan aktivitas yang berpotensi mengganggu fungsi sungai.

Komunitas lingkungan juga memiliki peran penting karena mereka berada cukup dekat dengan persoalan di lapangan dan dapat menjadi penghubung antara masyarakat dengan pemerintah.

Ciliwung dan Masa Depan Depok

Selama ini, pembicaraan mengenai sungai sering muncul ketika terjadi banjir, sampah menumpuk, atau bantaran mengalami kerusakan.

Padahal, kondisi sungai merupakan bagian dari kualitas lingkungan sebuah kota.

Jika Ciliwung dapat dijaga kebersihannya, bantaran ditata, vegetasi diperkuat, dan aktivitas di sekitarnya dikelola dengan baik, sungai ini bukan hanya dapat berfungsi sebagai bagian dari sistem lingkungan Depok.

Ia juga berpotensi menjadi ruang edukasi, kegiatan komunitas, dan ekowisata.

Pekerjaannya memang tidak sederhana dan tidak bisa selesai dalam satu kegiatan bersih-bersih.

Tetapi setidaknya, perhatian terhadap Ciliwung kembali mengingatkan satu hal: menjaga sungai berarti menjaga bagian dari masa depan Kota Depok.

Sumber: Kementerian Lingkungan Hidup, Pemerintah Kota Depok, serta laporan kegiatan lingkungan di Ciliwung Depok.