Kembali ke Artikel
Siasat UMKM Kuliner Depok Memanen Cuan dari Jam Tayang Piala Dunia 2026 yang ‘Gak Ramah’ Lambung
Gaya Hidup

Siasat UMKM Kuliner Depok Memanen Cuan dari Jam Tayang Piala Dunia 2026 yang ‘Gak Ramah’ Lambung

2 Juli 2026
128 tampilan
ShareWhatsAppFacebookX

Perbedaan zona waktu yang ekstrem bikin mayoritas pertandingan kick-off di waktu subuh, pagi hari, hingga menjelang siang WIB. Kalau dulu Piala Dunia identik dengan camilan malam hari, sekarang polanya berubah total. Penonton dipaksa begadang sampai subuh, atau justru harus standby nonton sambil bersiap berangkat kerja.

Euforia Piala Dunia 2026 di Amerika Utara akhirnya resmi memasuki fase gugur yang makin krusial. Tapi, buat kita yang tinggal di Indonesia, khususnya warga Kota Depok, turnamen kali ini punya tantangan tersendiri: Jam tayang yang bener-bener ‘gak ramah’ lambung.


​Perbedaan zona waktu yang ekstrem bikin mayoritas pertandingan kick-off di waktu subuh, pagi hari, hingga menjelang siang WIB. Kalau dulu Piala Dunia identik dengan camilan malam hari, sekarang polanya berubah total. Penonton dipaksa begadang sampai subuh, atau justru harus standby nonton sambil bersiap berangkat kerja.

​Menariknya, tantangan ini justru jadi ladang emas baru bagi para pelaku UMKM kuliner di Depok. Mereka gak kehabisan akal dan langsung gerak cepat memutar otak demi memanen cuan dari momen empat tahunan ini.


​1. Paket Begadang Subuh: Dari Warkop Modern Hingga Kuliner 24 Jam

​Karena pertandingan penentu sering kali beres di jam 5 atau 6 pagi, banyak penonton yang memilih gak tidur sekalian dari malam. Fenomena ini ditangkap cerdik oleh jaringan warkop modern dan kedai kopi di sepanjang jalan Margonda, Kelapa Dua, hingga area Sawangan.

Siasatnya: Mereka memperpanjang operasional menjadi 24 jam atau membuat "Paket Begadang Utama". Menunya digeser dari sekadar kopi hitam dan mie instan biasa, ke menu yang lebih 'kokoh' untuk menahan kantuk dan lapar subuh, seperti kopi susu gula aren literan, roti bakar porsi jumbo, hingga camilan hangat seperti cireng dan dimsum yang terus dikukus sampai pagi.


​2. Menu Sarapan "Edisi Bola" untuk Pekerja Urban

​Depok adalah rumah bagi ratusan ribu komuter yang bekerja di Jakarta. Ketika ada pertandingan besar yang tayang jam 6 atau 7 pagi, para pekerja ini sering kali dilema: mau nonton di rumah tapi takut telat, atau nonton di jalan tapi gak sempat sarapan.

​Melihat celah ini, para pedagang kuliner sarapan loka mulai dari bubur ayam, nasi uduk, hingga frozen food siap saji—langsung ikutan beradaptasi


​3. Strategi Delivery Apps: Mengincar Penonton "Kaum Rebahan"

​Gak semua orang mau keluar rumah subuh-subuh buat nobar. Banyak warga Depok yang memilih nonton di kamar sambil selimutan. Di sinilah UMKM kuliner berbasis online atau rumahan mengambil peran.

​Melalui optimalisasi aplikasi ojek online (Grab, Gojek, ShopeeFood), para merchant kuliner di Depok sengaja menyalakan status toko mereka sejak pukul 03.00 WIB. Mereka menawarkan promo khusus dengan nama-nama unik berbau sepak bola (misalnya: Promo Ekstra Time, Paket Adu Penalti) untuk menarik minat penonton yang kelaparan di paruh babak pertandingan.

​Piala Dunia 2026 membuktikan bahwa sepak bola bukan cuma soal urusan taktik di atas lapangan hijau, tapi juga soal bagaimana ekosistem ekonomi lokal beradaptasi.

​Para pelaku UMKM kuliner di Depok sekali lagi menunjukkan kelasnya. Dengan mengubah tantangan jam tayang yang 'ajaib' menjadi strategi bisnis yang taktis, mereka sukses memastikan bahwa roda ekonomi kreatif  di kota kreatif ini tetap berputar kencang bahkan ketika seluruh dunia sedang tertidur lelap.